
Metode memperindah dan mempercantik hati nurani, atau dalam bahasa tasawuf disebut "qalbu", jelas bermuara pada upaya mendapatkan pedoman hidup. Yang menjadi pertanyaan pokok adalah, di mana seseorang mendapatkan pedoman hidup sehingga hidupnya teratur dan diridlai oleh Allah SWT?
Di dalam buku al-Hikam karya Syekh Ataillah - yang dikaji ini - dihimpun hikmah-hikmah atau kata-kata hikmah. Yang dimaksud dengan kata-kata hikmah itu adalah kata-katanya ringkas dan padat arti. Dengan demikian, kelebihan al-Hikam adalah karena memakai rumus puitis, misalnya:“Nuqshon al rajaa' 'inda wujuud al zalal”.Jadi, memakai sajak dan enak didengarkan. Ini adalah pembuka dari buku al-Hikam. Ataillah, dalam rangkaian kata-kata puitis tersebut berbicara tentang hubungan antara kerja dan harapan.
Al-amal berarti kerja dan al-rajaa' berarti harapan. Bagaimana hubungan antara harapan dengan kerja, atau sebaliknya, bagaimana hubungan antara kerja dengan harapan, atau bagaimana interaksi antara harapan dengan kerja? Ia memulai pembicaraan dari situ. Ini satu kata-kata hikmah, singkat tetapi sarat isi. Oleh karena itu, kita harus mengkaji lebih jauh, apa itu "amal" dan apa itu "harapan".
Al-zalal itu pedomannya, tetapi saya belum mengkaji sampai ke sana, hanya memberi gambaran. Di sini, kita akan berbicara tentang moral dan akhlak sebagai pedoman hidup dalam kaitannya dengan al-Hikam. Dalam hal ini, ungkapan pertama dan isi dari al-Hikam, yaitu tasawuf.
Namun, di dalam rangka membicarakan moral dan akhlak sebagai pedoman hidup, maka yang terlebih dahulu dikaji adalah mengenai hikmah, mengenai tauhid, dan mengenai tasawuf. Jadi paket kita adalah "Hikmah, Tauhid, dan Tasawuf", sehingga kita harus mengerti kata-kata hikmah, tauhid, dan tasawuf baca kelanjutannya....